Perang Sendu Sendiri
Malam kemarin pikiran gue kacau. Perang
bersama si pikir dan si rasa beradu padu. Peristiwa demi peristiwa merancang
seperti cinema 4D dalam kepala. Benih kesedihan perlahan timbul, kemudian mulai
mengaduk emosi, hingga tangis menjadi pemenangnya. “What’s happen with u?” Jawaban gue cuma bisa garuk-garuk kepala. “Lo ketombean?” No! Bukan itu dude.
Ini sesuatu yang sulit untuk dijelaskan,
tapi gue tau masalahnya dimana. “Kalo lo
tau masalahnya dimana, kenapa lo gak coba bedah masalah itu?” bener juga ya. Kemudian
pikiran gue sedikit terbuka dan mulai terima akses informasi dari satu sisi ke
sisi yang lain.
Okey. Pada dasarnya gue harus
bisa memahami bahwa ada hal yang harus dipikirkan secara logis dan perasaan yang harus
dibawa. Dua hal ini memang perlu dijadikan patokan agar gue gak lari
kemana-mana. Baru sedih bentar, mikirnya udah kalang kabut. Seakan dunia
seperti tidak adil. “It’s okay Andri, dunia gak cuma ngurusin lo doang, akan tiba saatnya
semesta memberikan bagian yang tepat untuk lo. Jadi gak perlu sedih ataupun
khawatir.”
Penempatan rasa sedih kadang kala
menjadi prioritas utama, sampai bisa putar posisi. Ini parahnya, lupa sama
kegiatan penting, kerjaan jadi terbengkalai, atau emosi negatif jadi selimut diri.
Mungkin lagi sampai lupa, bahagia itu rasanya seperti apa? Ya sekiranya begitu
kalau sedih selalu jadi juara. Temen gue pernah bilang “kita ini dewasa ndri, harus
punya target dalam hidup. Sakit/sedih pun harus punya target.”
Benar apa yang teman gue katakan
itu. Sedih itu harus ada targetnya, gue juga gak mau hidup gue berlarut-larut
sedih. Gue harus bertumbuh. Namun, selagi sedih itu menyambut tanpa permisi,
gue menikmati dulu. Dalam benak pikiran, “Sedih,
kamu kalo dateng, kasih tahu aku ya. Jangan tiba-tiba begini. Aku kan bisa
siap-siap.” Hah namanya juga hidup kasih kejutannya gak pake ketok pintu dulu.
Dari datangnya Sedih, gue bersyukur,
bersyukur dan bersyukur. Banyak yang perlu dibenahi, perlu diperbaiki, perlu
diselesaikan, perlu dipelajari atau perlu disyukuri. Memilah satu demi satu,
apa dan kenapa sedih bertamu tiba-tiba. Ya, bagi gue ini seperti pesan semesta
untuk diri gue sendiri. Semesta seakan berbisik menyampaikan petuah di setiap
perjalanan, disinilah kita bisa menemukan meaning/makna hidup untuk menghargai dan mencintai diri sendiri.
Untuk gue yang kemarin merasa
sedih pasti bakalan males baca point-point diatas. Tapi tenang Andri, kalau
sedih lo dateng lagi, lo jamu dia, traktir kasih makan dan minum, jangan lupa
ajak ngobrol. Lo nangis-nangis aja gak apa-apa. Tapi inget Andri pukul 00.00
waktunya lo wake up! Waktu udah berganti, saatnya lo bergegas menghirup oksigen
baru.
Semangat Andri !
Aku tunggu kabar baikmu esok hari.
Komentar
Posting Komentar