Makasih ya, kamu itu...
Yang berlalu sudahlah berlalu. Beberapa hari lalu ini gue mengalami rasa kecewa. Itu pasti. Gue gak mau bohongin diri gue sendiri. Apa lagi kalo bukan soal relationship. Ini orang udah bikin gue jadi sayang sama dia. Rese lo. Maklum gue perempuan, nangis wajar kan. Sedih aja rasanya. Gue sedih karena gue merasa capek sama apa yang terjadi. Tapi yaudahlah. Gue sadar. Ini bukanlah sesuatu yang perlu gue tangisi setiap kali. Gak perlu terus berlarut-larut mikirin dia. Enough ndri.
Stop it...
Stop it...
Stop it...
Gue gak boleh kesel ataupun marah. ini bukanlah kesalahan dia ataupun gue. Ini adalah sinkronisasi yang dipaksakan. Gue dari awal udah feeling hubungan ini tidaklah berjalan dengan baik. Tapi logika gue disangkal sama perasaan gue sendiri.
Dalam keadaan begini gue rasanya ingin menyalahkan Tuhan, tapi gue gak boleh berfikir kaya gitu. Tuhan itu ada dalam diri jiwa gue. Ini sama aja kaya gue menyalahi diri gue sendiri. “Yakin aja bahwa apa yang sudah Tuhan rencanakan pasti ada alasannya. Tuhan mempertemukan lo dengan dia itu juga ada alasannya.”
Cooling down ndri...
Relax..
Okey. Dengan hati tenang dan kepala dingin, keputusan dia untuk mengakhiri hubungan ini, gue terima dengan ikhlas. Gue ikhlas melepaskan dia, ikhlas untuk tidak ada ikatan apapun dengan dia selain berteman. Sepertinya lebih baik berteman saja, itu sudah lebih dari cukup. Kita memang gak tau kedepannya bakalan seperti apa. Dan menurut gue, saat ini, berteman adalah keputusan yang baik.
Dari kejadian ini gue sadar bahwa banyak hal yang patut gue syukuri. Gue bersyukur kenal dia. Banyak hal positif yang gue dapet dari dia. Gak tau kenapa ya dia seperti mempunyai misi yang ingin diraih untuk mencapai keberhasilannya, konsisten dan fokus. "Aku doakan semoga apa yang sedang kamu jalankan bisnismu ini berjalan dengan lancar, terbuka lebar pintu rezekimu, dimudahkan segala aspek tujuanmu, aamiin." Serunya lagi dia bisa membagi energinya untuk bisnis dan kuliah dia. Gue sendiri aja belum tentu bisa. Salut !
Contohnya lagi dari segi agama, ini kali pertamanya gue ketemu laki-laki yang ibadahnya rajin banget. Sholatnya rajin, dzikirnya juga. Biarpun begitu dia udah bikin gue melek soal ibadah. Sangat menginspirasi. Sebetulnya ya, banyak juga laki-laki diluar sana rajin ibadah, tapi bukan itu persoalannya. Gue menemukan sesuatu yang beda dari dia. Entah kenapa gue merasa dia menjalin Habluminallah (hubungan baik dengan Allah) dan Habluminannas (hubungan baik dengan manusia) kenceng juga.
-----------------
Aku ada sedikit ucap rasa buat kamu yang pernah singgah akhir-akhir ini.
“Terima kasih ya, atas rasa suka dan sayangmu. Terima kasih, kamu sudah membuka dirimu untuk aku kenal. Terima kasih juga segala energi positifmu dan segala pesan-pesanmu yang remeh-temeh namun bermakna.
Usia hubungan kita memang tidak panjang, namun banyak hal yang aku rasa sulit sekali untuk dijelaskan. Mungkin ini seperti ada ketidakseimbangan dalam hubungan. Ada yang tidak kita pahami. Sepertinya kita sibuk berdebat, kemudian lupa untuk berkompromi. Ya walaupun begitu, aku menyimpan banyak makna yang aku serap dari diri kamu. Kamu itu hebat loh, luar biasa.”
------------------
Oh iya, ada kalimat yang pernah gue inget, ketika dia bilang:
“Kamu kalo gak ada kerjaan, tidurnya jangan malem-malem gak baik itu”
“kamu mau sampai kapan kaya gini terus?”
“kamu mestinya berubah”
“kamunya jangan kebanyakan mikir, lakuin aja udah”
“kamu mesti cinta sama diri kamu sendiri”
“kamu tuh terlalu sibuk mikirin yang lain, jadi lupa sama diri kamu sendiri”
Simple tapi berarti buat gue. Ini kalimat magic. Berasa ketampar banget sih. Kalo dipikir-pikir lagi sebenernya semua orang bisa ngomong gitu. Saat itu dikepala gue bilang “kenceng juga ya intuisinya”, apa yang dia katakan sebenernya sedang terjadi pada diri gue. Dan gue merasa dia memahami itu.
Udah gitu aja, masih banyak lagi positifnya dan ada juga negatifnya. Banyak hahaha. Gue disini gak mau membahas yang negatif. Wajar manusia selalu ada sifat buruk. Intinya “terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa udah mempertemukan aku sama dia. Aku bersyukur.”
Oke deh cukup, terima kasih ya sudah membaca sampai akhir. Semoga ada makna yang bisa diambil dari cerita receh ini dan semoga yang membaca ini selalu dalam lindungan Tuhan, diberikan kesehatan dan umur panjang dan tidak lupa juga untuk bahagia selalu.
Aamiin
Komentar
Posting Komentar